

“Perihal Tanah Owa Yang Dirampas”
Oleh : Melia Roza ( Guru SMP IT Darul Hikmah Pasbar )
“Tidakkah kalian dengar suara air?”
Zaid menyibak daun pakis, membuang sarang laba-laba di wajahnya. Mereka berkejaran dengan waktu.
“Sial, saya menginjak kotoran babi.”
Buana merasa jijik melihat kakinya. Dia sudah tidak memakai sandal semenjak dari Hutan Samawang. Putus. Zaid dan Sagar tidak menanggapi. Mereka berjalan dengan cepat, melibas akar-akar nasi yang mereka lalui. Tidak jauh berjalan, terdengar suara teriakan Zaid.
“Benar, ada air!”
Mereka sudah menemukan aliran sungai. Buana yang mengetahui itu mempercepat langkah dan menyusul 2 kawannya.
“Hey, kau tidak lihat saya sedang minum!”
Sagar membuang air dari mulutnya ketika melihat Buana membersihkan kotoran babi liar pada bagian atas sungai.
“Itu salahmu, kenapa minum air di bawah sana.” Jawab Buana dengan ketus. Tidak ada perdebatan lanjutan dari Sagar. Dia sudah terlalu lelah berjalan sejauh itu. Pun tidak mau berdebat dengan Buana.
“Kalian pernah mendengar Sungai Alas di Aceh sana?”
Zaid memecah keheningan di antara mereka. Tidak ada tanggapan, Buana dan Sagar sudah merebahkan tubuh menatap lebatnya Hutan Samawang. Sepertinya melepas lelah sembari memikirkan cara keluar dari Hutan dan kembali ke pondok sebelum dicari Ustadz Kadam kepala pengasuhan mereka. Tepatnya itu lah yang dipikirkan oleh Sagar. Sedangkan Buana dia punya pikiran berbeda pula.
“Aku sering melihat video-video perjalanan, suatu hari nanti aku ingin menjadi seperti mereka. Menjelajahi dunia ini. Termasuk merawat hutan. Terutama sekali menjawa Owa…”
Zaid tetap bercerita dengan semangat, membayangkan dia berada di Sungai Alas sembari membakar ubi dan jagung yang mereka beli di pasar dekat rumahnya. Dia juga membayangkan berbicara dengan bule-bule di atas kapal sederhana yang memecah Sungai Mekong yang lusuh, nun jauh melalui beberapa negara. Dan yang paling ingin dilakukannya menyelamatkan owa-owa yang sudah terancam hidupnya oleh pemburu dan perusakan tempat hidup owa itu sendiri.
Dia selalu ingin menjelajah walaupun tubuhnya tidak sempurna. Kakinya patah dan dia berjalan bengkok. Sewaktu kecil ada kejadian di hutan yang membuat kakinya bengkok permanen. Ketika dulu dia dibawa bapaknya menjaga hutan dan tentu menjaga Owa. Namun tidak ada penyesalan sedikit pun tentang kakinya. Dia merasa bersyukur kakinya cacat dikarenakan hal baik yang sudah dilakukannya bersama bapak. Itu kenangan yang tidak pernah hilang dalam ingatannya. Menjaga Owa bersama bapak.
“Kalian pernah dengar nama Chanee Kalawet. Orang luar yang mengabdikan dirinya untuk hutan Kalimantan. Tidak hanya dia, dua orang anaknya pun ikut menjaga hutan. Isterinya pun begitu.”
Tetap tidak ada jawaban, Sagar dan Buana masih melepas lelah sembari memikirkan kembali ke asrama tanpa diketahui pengasuh mereka. Ini sudah 2 jam mereka meninggalkan pondok. Tepatnya itulah yang dipikirkan Sagar. Jika sholat ashar datang dan mereka belum kembali, maka mereka akan ketahuan cabut dari sekolah. Botak. Itu konsekuensi menyakitkan bagi mereka, terkhusus Sagar ketua OSIS yang sudah dicap teladan oleh guru dan teman-temannya. Begitupun bagi Buana, jika dia ketahuan berulah lagi, maka habislah dia oleh ayahnya. Ini sekolah ketiganya selama 2 tahun ini. Walaupun begitu hal tersebut tidaklah terlalu masalah baginya.
Sagar semulanya tidak hendak cabut, hanya ingin mencari durian. Kata orang di Hutan Samawang sedang musim durian, dia pencinta durian. Hantunya durian. Tapi tidak ada yang akan menyangka kalau dia senekat itu saking sukanya durian. Toh jika dia ingin dan mengabarkan kepada ortunya maka durian tersebut akan diantar ke asrama. Namun lagi-lagi dia lebih memilih jalan berbeda.
Buana lain lagi, dia hanya ikut-ikutan bersama Sagar dan Zaid. Dia terlalu bosan dan hampir saja gila karena merasa terkungkung tinggal di asrama. Dia Tidak banyak bicara namun dibalik diamnya banyak pemberontakan-pemberontakan yang dilakukannya. Papanya orang paling kaya di Kabupaten. Pengusaha kayu. Kata orang papanya serakah dan bengis. Dan dia pun mengakui hal itu..
Zaid tentu beda lagi, ini hal yang paling ditunggunya. Masuk hutan kembali setelah di pesantren dia jarang sekali kembali ke hutan. Ketika diajak oleh Sagar tanpa pikir panjang dia langsung ikut saja. Padahal dia anak teladan sekaligus santri terpintar di pondok. “Kalian tahu kenapa aku suka Owa?” tetap tidak ada jawaban, namun dia tetap melanjutkan ceritanya “Suara owa selalu melekat di telingaku. Kadang-kadang aku pergi menjelajah hutan sendirian. Tapi ibuku selalu marah jika aku terlalu jauh masuk hutan. Takut salah tembak. Padahal aku rindu masuk Hutan Samawang seperti dulu.”
“Salah tembak?”
Sagar baru menanggapi dan tertarik dengan pembicaraan Zaid.
“Bapakku mati tertembak. Tahukah kalian ada peluru nyasar ketik beliau patroli di hutan. Begitulah kata orang-orang ketika bapakku mencoba menyelamatkan hutan, ya menyelamatkan Owa dan binatang-binatang lain.”
Ketiganya diam, hanya ada suara aliran sungai. Dan terdengar bunyi dari kejauahan..
Wuuu-ooo..wuuuu-ooo..wuuu-ooooo-wuuuuuu-oooo
“Itu suara Owa, benar itu suara Owa….Aku sudah lama sekali tidak mendengar suara Owa.” Saking senangnya Zaid tidak lagi merasakan capek, matanya berbinar dan tiba-tiba saja dia menangis.
“Akhirnya aku mendengar suara Owa lagi, setelah 7 tahun kematian, bapak.”
Buana yang melihat itu merasa ikut bersemangat.
“Kau mau melihat, Owa lagi?”
Buana yang banyak diam sedari awal membuka pembicaraan.
“Mari kita masuk hutan lebih jauh lagi. Melihat Owa…”
“Kau sungguhan ingin melihat Owa juga?”
“Tentu” Zaid jauh lebih bersemangat dari awal tadi.
Sagar hanya diam, dia tidak yakin dengan ide kedua temannya. Yang lebih tepatnya kedua teman barunya. Sekali lagi mereka baru berteman selama di hutan ini. Di asrama hanya sekedar bertegur sapa.
“Ini terlalu beresiko, kawan. Kita bisa ketahuan cabut dan akan sangat memalukan jika kita mendapat konsekkuensi botak.” Zaid yang mendengar itu langsung terlihat kecewa. Matanya tidak lagi berbinar. Sagar tahu itu tapi dia pura-pura tidak melihat.
“Ini sebuah mimpi, kawan. Hal yang dinanti-nantinya selama 7 tahun. Selama 7 tahun dia mengira Owa itu sudah tidak ada lagi. Sudah mati. Namun sekarang suara Owa itu memanggil. Ayo lah. Ini hal yang tidak akan bisa kita ulangi dihari-hari lainnya…” Tidak ada yang menyangka Buana bisa bicara seperti itu. Namun di balik itu semua tidak ada yang tahu apa tujuan sebenarnya.
Akhirnya setelah Sagar dan Buana berdebat. Mereka memutuskan untuk masuk hutan lebih jauh lagi. Mencari suara Owa yang sudah tidak pernah didengar oleh Zaid dan orang kampung selama 7 tahunan. Semenjak kematian bapaknya. Yang katanya salah tembak di hutan. Mereka melanjutkan perjalanan, tapi tidak jauh melangkah Buana terpeleset masuk lubang. Kakinya membiru dan dan satu kakinya berdarah. Dia meringis kesaktian. Sagar dengan sigap membantu dan menganggkat tubuh Buana.
“Sial….lakukan sesuatu untukku!” Buana mengumpat..
“Aku akan cari daun babadotan..” Zaid menghilang di balik batang-batang pohon. Sagar memberikan air yang disimpannya dalam bambu yang tadi sempat diambilnya. Tidak lama Zaid datang membawa daun babadotan untuk menghentikan luka di kaki Buana.
“Apakah kalian yakin kita akan melanjutkan perjalanan lagi?”
Sagar menunjukan wajah ragu, peluhnya masih mengalir sisa kelelahan dari membopong tubuh Buana. Zaid ragu menjawab. Dia hanya diam, antara mau lanjut dan tidak. Khawatir kaki Buana semakin parah. Namun suara Owa masih memanggil dengan penuh penghibaan.
“Kita tetap lanjut. Aku masih mampu berjalan.” Buana mencoba berdiri, dia berpegangan di pohon paling besar sejauh penglihatan mereka. Itu Pohon Merbau yang hanya bertambah 1 cm setiap tahunnya. Zaid memandang pohon Merbau raksasa. Pohon Merbau seperti berkata padanya, bahwa dia kesepian di sana. Tanpa teman. Dulu pohon Merbau tidak hanya satu batang, tapi banyak. Itu ingatannya tentang apa yang terdapat di Hutan Samawang ketika dulu ayahnya membawa dia ke sana. Tapi kemana pohon-pohon itu sekarang pikirnya.
Setelah diskusi mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Sagar bersedia membopong Buana selama perjalanan, Zaid yang akan jadi penunjuk jalannya. Zaid masih mengingat-ingat jalan untuk masuk ke Hutan Samawang paling dalam. Namun semakin dia berjalan ada yang berbeda. Jalannya tidak lagi sama begitupun dengan aroma hutannya. Suara owa pun juga berbeda, ada penghibaan di balik suara itu. Semakin mereka masuk ke dalam hutan, jalan yang mereka lalui semakin bagus. Seakan-akan mereka bukan masuk ke dalam hutan paling dalam, melainkan mereka keluar dari hutan. Tapi perasaan Zaid kuat dia memang menuju ke dalam Hutan Samawang.
Semakin mereka masuk, ada keanehan yang sama-sama mereka rasakan, kecuali Buana. Dia seperti sudah menduga hal semacam itu. Buana Respance, nama itu diberikan papanya ketika dulu usaha papan cuci mereka sedang berjayanya, sehingga nama akhirnya diberi respace. Singkatan dari rezeki papan cuci. Dulu sebelum usaha jual beli kayu, Papanya yang bernama Badrun seorang laki-laki kampung yang mencari rezeki dari membuat papan cuci hingga Buana lahir. Setelah umur Buana 3 tahun usaha ayahnya menjadi semakin bertambah, berjualan kayu. Bahkan usaha papan cuci pun sudah ditinggalkan. Kata orang kampung modal membabat hutan dari bos Cinanya.
Cahaya benderang dan bunyi mesin yang menderu, itu bukan sesuatu yang dilahirkan hutan. Mereka berjalan semakin pelan. Di depan sana juga ada suara manusia dan suara owa yang masih memanggil dengan penuh penghibaan.
“Ada yang tidak beres di depan sana. Saya mohon jangan lanjutkan perjalanan ini.” Sagar mendesak 2 orang temannya. Tapi Zaid dan Buana tidak mendengarkan, mereka semakin maju dengan mengendap-endap. Bahkan kondisi kaki Buana sudah nampak lebih baik. “Kalian yakin akan lanjut. Kata ayahku manusia biasanya lebih kejam dari hewan jika mereka merasa terganggu.” Tidak ada jawaban, Buana menarik tangan Sagar dengan kuat. Di dalam hutan paling dalam ada kehidupan. Mereka melihat kehidupan manusia. Mereka punya mesin-mesin Chainsaw yang canggih, di sana juga ada buldoser yang tetap bekerja sesore itu. Di sana juga ada sekitar 10 orang pekerja. Mereka punya pondok tempat mereka tinggal.
“Kasihan Owa, mereka ketakutan. Suara owa yang kita dengar tadi, suara minta pertolongan. Owa takut dengan bunyi mesin-mesin ini.” Zaid menitikkan air mata. Dia mencari suara Owa yang terdengar semakin dekat, namun dia tidak menemukannya.
“Kita lihat bagian belakang pondok.” Buana berjalan lebih dulu sambil terpincang-pincang.
“Siapa Itu?” salah seorang pekerja ada yang menyadari kedatangan mereka. Buana keluar dari persembunyiannya. Sebelum itu dia sudah mengarahkan Zaid dan Sagar untuk menuju belakang pondok. Tempat yang mereka yakini Owa dikurung.
“Owa…” pada akhirnya Zaid kembali melihat Owa. Dulu ada banyak Owa yang bergelantungan di pohon-pohon besar Hutan Samawang, sekarang dia hanya menemukan 1 ekor Owa ketakutan yang meringkuk di dalam kandang kecil itu. Zaid lagi-lagi menangis. Dia teringat bagaimana dulu bapaknya menyelamatkan Owa. Benar kata bapaknya dulu, di dalam Hutan Samawang ini sedang terjadi sesuatu yang menakutkan. Inilah yang selama ini disebut bapaknya.
Sagar sadar akan situasi, dia maju dan membuka kurungan Owa segera. Owa bersuara dengan penuh pengharapan sehingga beberapa pekerja berjalan menuju belakang pondok. Tiba-tiba saja Zaid dan Sagar merasakan sesuatu menimpa kepala mereka dan mereka jatuh tersungkur di dalam Hutan Samawang paling dalam. Suara Owa masih terdengar dengan penuh penghibaan.
***
Mereka tersadar bahwa mereka sudah berada di asrama. Ustadz Kadam kepala pengasuhan mereka masih menunjukkan wajah kwatir. Malam itu mereka diantar oleh orang asing dalam keadaan pingsan, ditinggalkan begitu saja di depan gerbang asrama. Dan suara Owa masih terngiang di kepala Zaid, dia kembali menangis, tangisnya pelan namun dalam. Apakah Owa itu berhasil kabur pikirnya. Namun ada kenyataan pahit yang diam-diam didengarnya, ketika ayahnya tidak mati salah tembak tapi ditembak oleh pemilik pengusaha kayu tempat yang baru saja mereka datangi. Tiba-tiba dia mengarahkan pandangan kepada Buana yang diam seribu bahasa di sampingnya. Dengan pandangan yang penuh penghibaan juga. Satu hal yang selama ini berkecamuk dalam pikirannya terbukti. Tentang ayahnya yang bengis itu
Selesai
Catatan:
Cerita ini berlatarkan di daerah Jawa.
Owa:Owa adalah jenis kera kecil dari keluarga Hylobatidae yang tidak memiliki ekor, berlengan sangat panjang, dan hidup di atas pohon. Hewan ini terkenal sangat lincah, setia pada satu pasangan (monogami), dan bersuara nyaring. Dikenalnya juga sebagai petani hutan karena mampu memancarkan biji sejauh 260 meter.