Idul Fitri dan Jalan Pulang

Motion blurred car driving on illuminated Dutch highway at night with warm and white street lights and bridge in background

Malam-malam itu kian menipis.

Seperti nafas yang perlahan dipendekkan…
seperti tamu yang diam-diam berkemas tanpa banyak kata.

Ramadhan tidak pernah benar-benar pamit.

Ia tidak mengetuk pintu hati kita sambil berkata, “Aku akan pergi.”
Ia hanya… perlahan menjauh.

Dan tiba-tiba, kita tersadar—
bahwa yang hangat itu sudah mulai dingin,
yang hidup itu mulai meredup,
dan yang dekat… perlahan terasa jauh kembali.

Namun yang lebih menyedihkan bukanlah Ramadhan yang pergi.

Melainkan hati yang tidak merasa kehilangan.

Betapa banyak di antara kita yang justru lebih sibuk menyiapkan pakaian terbaik, daripada menyiapkan hati yang bersih. Lebih sibuk menyambut hari raya, daripada merenungi: apa yang sebenarnya telah berubah dalam diri ini?

Kita menyebutnya “Id”.

Hari kembali.

Namun…
kita kembali ke mana?


Bukankah selama Ramadhan… ada sesuatu yang berbeda?

Ada malam di mana kita menangis tanpa benar-benar tahu kenapa.
Ada ayat yang terasa seperti ditujukan langsung kepada kita.
Ada sujud yang begitu lama… seakan enggan mengangkat kepala, karena di sanalah hati merasa paling tenang.

Ada rasa… yang mungkin sudah lama hilang.

Dan Ramadhan… mengembalikannya.

Untuk sesaat, kita merasa pulang.

Pulang kepada Allah.


Namun kini, di penghujungnya…
sebuah pertanyaan yang tidak nyaman mulai muncul:

Jika ini adalah “kembali”…
mengapa kita justru bersiap meninggalkan semua itu?

Mengapa Al-Qur’an yang kemarin kita peluk, kini mulai kita lepaskan?
Mengapa malam yang kemarin kita hidupkan, kini kembali kita tidurkan?
Mengapa dosa yang kemarin kita hindari, kini perlahan kita dekati lagi?

Apakah selama ini… kita benar-benar berjalan pulang?

Atau hanya singgah… sebentar saja?


Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah.

Fitrah itu suci.

Fitrah itu mengenal Allah.

Fitrah itu… ingin dekat dengan-Nya.

Itulah rumah kita yang pertama.

Namun hidup mengajarkan kita banyak hal—
dan tanpa sadar, ia juga menjauhkan kita dari rumah itu.

Dosa demi dosa…
lalai demi lalai…
membuat hati ini seperti pengembara yang lupa arah.

Kita berjalan jauh.
Terlalu jauh.

Sampai akhirnya… kita tidak lagi merasa asing dengan jarak itu.


Lalu Ramadhan datang.

Seperti seseorang yang menuntun tangan kita dengan lembut…
dan berkata tanpa suara:

“Ayo… kita pulang.”

Ia menahan lapar kita, agar kita belajar menahan nafsu.
Ia menghidupkan malam kita, agar kita kembali mengenal sunyi bersama Allah.
Ia mendekatkan kita dengan Al-Qur’an, agar kita kembali tahu arah.

Ramadhan tidak mengubah kita secara instan.

Ia hanya… menunjukkan jalan.


Namun jalan itu tidak akan berarti…

jika kita berhenti melangkah.


Idul Fitri datang sebagai penanda.

Bukan bahwa kita telah sampai…

tapi bahwa kita telah diberi kesempatan untuk memulai.

Namun betapa banyak yang salah memaknainya.

Kita mengira ini adalah akhir dari perjalanan,
padahal ini baru saja dimulai.

Kita merasa telah kembali,
padahal mungkin kita baru sadar… betapa jauhnya kita tersesat.


Ibn Rajab رحمه الله berkata,
“Bukanlah hari raya itu bagi yang memakai pakaian baru,
tetapi bagi yang diterima amalnya.”

Dan Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata,
“Setiap hari di mana tidak ada maksiat kepada Allah, maka itulah hari raya.”

Maka Id… bukan tentang hari.

Ia tentang keadaan hati.


Dan di sinilah luka itu terasa…

Bagaimana jika Ramadhan telah pergi,
namun kita belum benar-benar kembali?

Bagaimana jika semua ibadah itu hanya menjadi rutinitas,
tanpa benar-benar mengubah arah langkah kita?

Bagaimana jika…
kita berdiri di hari raya,
namun hati ini masih jauh dari Allah?


Coba tanyakan pada diri…

Apakah kita masih merindukan sujud panjang itu?
Apakah kita masih ingin membuka Al-Qur’an seperti di hari-hari kemarin?
Apakah kita masih ingin berbicara dengan Allah di sunyi malam?

Ataukah semua itu…
hanya indah karena Ramadhan?

Jika iya… maka mungkin yang kita cintai adalah suasananya.

Bukan Rabb-nya.


Padahal kita bukan hamba Ramadhan.

Kita adalah hamba Allah.

Allah yang sama…
yang kita tangisi di malam Lailatul Qadr,
adalah Allah yang sama…
yang kita lupakan setelah Id.


Dan sesungguhnya…

kita semua sedang berjalan menuju satu kepulangan yang tidak bisa ditunda.

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)

Tidak ada yang benar-benar tinggal di dunia ini.

Semua hanya… sedang pulang.


Maka jika hari ini kita menangis karena Ramadhan akan pergi…

pastikan itu bukan karena kita kehilangan suasananya.

Tapi karena kita takut…

kita belum benar-benar menemukan jalan pulang.


Dan jika masih ada sisa lembut di hati ini…
jika masih ada rindu yang tertinggal…
jika masih ada keinginan untuk kembali…

maka jangan lepaskan.

Itu mungkin tanda…

bahwa Allah masih memanggil kita.


Jangan tunggu Ramadhan berikutnya untuk pulang.

Karena kita tidak pernah tahu…
apakah kita masih diberi kesempatan.


Maka jadikan Id ini bukan sekadar perayaan.

Jadikan ia sebagai janji.

Bahwa kita akan terus berjalan.

Bahwa kita akan terus kembali.

Bahwa kita tidak ingin lagi tersesat terlalu jauh…

dari rumah yang bernama
kedekatan dengan Allah.


Dan semoga…
ketika kelak kita benar-benar sampai,

kita tidak pulang sebagai orang asing…

tapi sebagai hamba yang telah lama dirindukan.

Allahumma taqabbal minna…
dan jangan biarkan kami kembali tersesat, setelah Engkau tunjukkan jalan pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Terkait

Yayasan Darul Hikmah Pasaman Barat hadir sebagai ruang tumbuhnya generasi berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi dunia yang makin kompetitif.

Ikuti Sosial Media Darul Hikmah