“Ayah, Lihat Aku Dong: Pelajaran dari Tatapan yang Menunggu Jawaban”

Aku masih ingat sore itu. Hujan turun tipis-tipis, aroma tanah basah masuk lewat jendela, dan ruang tamu rasanya jadi cozy banget. Aku duduk sambil scroll HP—biasalah, kerjaan, grup, notif, dan hal-hal yang entah kenapa selalu terasa urgent meskipun sebenarnya… ya nggak penting-penting amat.

Di tengah fokus yang sok sibuk itu, ada suara kecil yang pelan banget:

“Yah… lihat aku dong.”

Suara itu hampir tenggelam di antara chat masuk, video pendek, dan email yang baru kubuka. Tapi entah kenapa, kalimat itu mental di kepala kayak bola pingpong, memantul berkali-kali sampai aku akhirnya mendongak.

Dan di sana, berdiri si kecil—Taufiq—membawa robot dari kertas yang dia buat sendiri. Bukan masterpiece, bukan sesuatu yang layak ikut lomba, tapi matanya… matanya itu loh.

Mata yang menunggu pengakuan.
Mata yang minta dipandang, bukan cuma dilirik.

“Bagus, Nak,” kataku sekilas sambil balik lagi ke HP.
Iya, aku tahu. Salah banget.

Dia tetap berdiri. Tidak bergerak. Tidak pergi.
Cuma memegang robot itu erat-erat dengan wajah yang sulit dibaca: antara berharap… dan kecewa.

Dan di situ, jleb.
Tatapan itu bikin aku sadar: anak-anak jarang meminta hal besar. Mereka cuma pengin perhatian kita. Pengakuan. Sorotan mata yang penuh kebanggaan, bukan sorotan mata yang sekilas lalu hilang.

Aku taruh HP.
Tapi bukan taruh kayak biasa. Kali ini aku taruh dengan kesadaran penuh: Aku harus hadir.

Aku duduk, tatap dia, dan bilang, “Ceritain ke Ayah. Robotnya namanya apa?”

Taufiq langsung meledak dengan cerita. Matanya hidup. Tangannya heboh. Nafasnya agak tersengal karena semangat. Dan baru kusadar, hal kecil begini yang bikin anak merasa berarti.

Pelajaran hari itu sederhana tapi nusuk:
Anak itu selalu melihat kita sebagai pusat dunianya. Tapi ketika kita terlalu sibuk melihat ke layar, mereka kehilangan tempat berpijak.

Kita sering bilang sayang anak. Kita kerja buat mereka. Kita capek buat mereka.
Tapi buat anak, cinta bukan diukur dari kerja keras kita.
Cinta buat anak diukur dari… apakah kita melihat mereka?

Lihat beneran.
Dengan mata, perhatian, dan hati.

Sejak hari itu, aku belajar satu hal penting:
Ketika anak memanggil “Ayah, lihat aku dong”—itu bukan sekadar permintaan.
Itu doa kecil.
Itu harapan.
Itu undangan agar kita masuk ke dunia mereka, meski hanya 3 menit.

Dan 3 menit itu, percaya deh, bisa jadi kenangan seumur hidup.

Oleh : Arsil Nurhuda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Terkait

Yayasan Darul Hikmah Pasaman Barat hadir sebagai ruang tumbuhnya generasi berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi dunia yang makin kompetitif.

Ikuti Sosial Media Darul Hikmah