
Dermaga Hati di Darul Hikmah
Oleh : Abi Elfizon Amir
( Ketua Yayasan Darul Hikmah )
Lembayung senja mulai memudar di ufuk barat Pasaman, menyisakan gurat jingga yang memantul di dinding-dinding kokoh gedung SMP IT Darul Hikmah. Di kompleks asrama, keriuhan suara santri yang bersiap menuju masjid untuk salat Maghrib mulai mereda. Namun, bagi Aku, sebagai seorang musrif yang telah mengabdi selama lima tahun di Darul Hikmah, ada sebuah sunyi yang berbeda malam itu. Aku tidak menemukan sosok Rayyan, santri kelas tujuh yang biasanya paling semangat merapikan barisan sandal di depan asrama.
Aku melangkah dengan tenang, menyusuri lorong-lorong asrama yang harum oleh wangi sabun dan minyak telon. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar di ujung koridor. Di sana, di atas tempat tidur tingkat paling bawah, aku melihat sebuah gundukan selimut. Rayyan sedang meringkuk, memunggungi pintu, dengan bahu yang sesekali bergetar hebat. Aku menghela napas panjang, aku tersenyum melihat tingkah laku Rayyan. Sebagai musrif, aku tahu betul bahwa minggu-minggu pertama di pondok adalah masa transisi yang paling berat bagi seorang anak yang baru saja lepas dari pelukan hangat orang tuanya.
Aku mendekat, lalu duduk di tepi ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak mengejutkan Rayyan. Aku tidak langsung bertanya atau menyuruh Rayyan segera bangkit menuju masjid. Aku hanya meletakkan telapak tangan di atas bahu Rayyan yang tertutup selimut. Selama beberapa menit, hanya suara detak jam dinding dan isak tangis tertahan yang mengisi ruangan itu. Aku memberikan ruang bagi Rayyan untuk menumpahkan segala sesak di dadanya, karena aku tahu, terkadang kehadiran yang bisu jauh lebih bermakna daripada rentetan nasihat yang terburu-buru.
Setelah tangis Rayyan mulai mereda, Aku berbisik dengan nada bicara yang lembut, menanyakan apakah Rayyan ingin bercerita. Perlahan, Rayyan menyibak selimutnya. Matanya sembab dan wajahnya pucat. Dengan suara parau, ia bercerita betapa ia merindukan ibunya, betapa ia teringat saat-saat makan malam bersama ayahnya, dan betapa ia merasa tidak sanggup menjalani hari-hari yang panjang di asrama tanpa mereka. Baginya, tembok asrama ini terasa seperti penjara yang memisahkannya dari kebahagiaan yang selama dua belas tahun ia miliki secara utuh.
Aku mendengarkan setiap kata dengan saksama, menatap mata Rayyan dengan penuh perhatian tanpa sekali pun memotong pembicaraan. Setelah Rayyan terdiam karena kehabisan kata-kata, Aku mulai bercerita tentang pengalamanku sendiri. Aku berkisah tentang masa laluku saat pertama kali merantau untuk menuntut ilmu di tanah Jawa, jauh dari Pasaman Barat yang aku cintai. Aku mengaku bahwa aku pun pernah menangis di balik bantal, merasa sendirian, dan ingin pulang pada malam pertama. Cerita ini membuat Rayyan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka bahwa aku musrifnya yang tampak begitu tegar dan disiplin, pernah merasakan rapuh yang sama dengannya.
Aku kemudian mengajak Rayyan berdiri dan mengajaknya berjalan menuju teras asrama yang menghadap ke arah Gunung Talamau yang menjulang gagah di kejauhan. Di bawah siraman cahaya jingga mentari yang akan terbenam, aku menjelaskan sebuah filosofi tentang pohon besar yang ada di halaman sekolah. Aku mengatakan bahwa agar sebuah pohon bisa tumbuh menjulang tinggi dan tahan terhadap badai, akarnya harus rela masuk ke dalam tanah yang gelap dan sempit. Tanah itu mungkin terasa menyesakkan bagi akar, tapi justru di sanalah akar menemukan nutrisi dan kekuatan untuk menopang batang yang akan menyentuh langit.
Aku menganalogikan asrama SMP IT Darul Hikmah sebagai tanah yang subur itu. Memang terasa sempit dan jauh dari kenyamanan rumah, namun di sinilah Rayyan sedang menanam akar karakternya. Aku menekankan bahwa orang tua Rayyan tidak sedang membuangnya, melainkan sedang mempercayakan harta mereka yang paling berharga kepada Allah melalui perantara para ustadz di sini. Aku menjelaskan bahwa rindu yang dirasakan Rayyan saat ini adalah sebuah bentuk ibadah jika ia mampu mengonversinya menjadi semangat dalam menghafal Al-Qur’an dan menuntut ilmu.
Lebih dalam lagi, Aku memberikan sebuah pemahaman yang menggugah hati Rayyan. Aku mengatakan bahwa jarak yang ada saat ini adalah cara Allah untuk membuat pertemuan di masa depan menjadi lebih bermakna. Aku menggambarkan betapa bangganya ayah dan ibu Rayyan nanti saat melihat anak mereka pulang dengan akhlak yang mulia dan hafalan ayat suci yang tertanam di dada. Aku berjanji bahwa aku dan musrif lainnya bukan hanya pengawas, melainkan pengganti orang tua yang siap mendengarkan, membimbing dan menjaga Rayyan selama berada di lingkungan SMP IT Darul Hikmah.
Mendengar penjelasan yang begitu menyentuh, hati Rayyan yang tadinya sekeras batu karena kesedihan mulai melunak. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak sendirian. Di sekelilingnya, ada ratusan kawan yang merasakan hal yang sama dan ada guru-guru yang mencintainya dengan tulus. Aku kemudian mengajak Rayyan untuk mengambil air wudhu, menjelaskan bahwa air wudhu bukan hanya membasuh debu di kulit, tapi juga mampu mendinginkan api kegalauan di dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju tempat wudhu, Aku menyelipkan humor-humor kecil yang membuat Rayyan tersenyum tipis. Aku bercerita tentang betapa lucunya tingkah santri-santri senior saat pertama kali masuk asrama, yang kini justru menjadi santri yang paling betah dan enggan pulang. Kedekatan ini membangun jembatan kepercayaan yang kuat antara seorang murid dan guru. Rayyan merasa bahwa Aku bukan lagi sosok yang menakutkan dengan aturan-aturan, melainkan seorang kakak dan sahabat yang bisa diandalkan.
Setelah melaksanakan salat magrib berjamaah, Aku memberikan sebuah buku catatan kecil bersampul biru kepada Rayyan. Aku berpesan agar Rayyan menuliskan satu baris doa atau satu pencapaian kecil setiap hari di buku itu, yang kelak akan ia berikan kepada ibunya saat kepulangan nanti. Cara ini adalah strategi aku sebagai musrif untuk mengalihkan rasa rindu menjadi sebuah karya nyata. Rayyan menerima buku itu dengan tangan gemetar namun dengan sorot mata yang jauh lebih hidup.
Malam semakin larut di Pasaman Barat, namun suasana di hati Rayyan kini jauh lebih terang. Ia kembali ke kamarnya, menyapa teman-temannya yang tadi sempat ia acuhkan, dan mulai merapikan kitab-kitabnya. Dari ambang pintu, Aku memperhatikan perkembangan itu dengan rasa syukur yang mendalam. Aku tahu tugasku sebagai musrif bukan hanya memastikan santri tidur tepat waktu, tapi memastikan mereka tidur dengan hati yang tenang dan mimpi yang besar.
Kisah malam itu menjadi titik balik bagi Rayyan. Ia tidak lagi menjadi santri yang murung, melainkan sosok yang aktif dalam setiap kegiatan asrama. Setiap kali rasa rindu itu datang menyergap, ia teringat pada filosofi akar dan pohon yang aku sampaikan di teras asrama. Ia pun mulai rajin berdiskusi dengan ku sebagai musrifnya. Tidak hanya soal pelajaran, tapi juga soal kehidupan. Hubungan emosional yang terbangun melalui empati dan pendekatan personal ini membuktikan bahwa pendidikan di SMP IT Darul Hikmah bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tapi juga sentuhan ruhani yang memanusiakan.
Aku telah membuktikan bahwa seorang musrif sejati adalah mereka yang mampu mendengar suara yang tidak terucap dan melihat luka yang tersembunyi di balik senyum santrinya. Keberhasilanku menenangkan Rayyan bukan karena aku memiliki kata-kata sihir, tapi karena aku memberikan sepotong hatinya untuk memahami perasaan seorang anak yang sedang belajar menjadi dewasa. Di bawah naungan Al Qur’an, di dalam asrama Darul Hikmah, tumbuhlah bibit-bibit unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental karena mereka didampingi oleh pembimbing yang penuh kasih sayang.
Waktu terus berjalan, dan Rayyan kini tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berprestasi. Namun, ia tidak pernah lupa pada malam di mana seorang musrif duduk di samping ranjangnya dan menghapus air matanya. Bagi Rayyan, Aku adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membantunya menemukan rumah di dalam tempat yang awalnya ia anggap asing. Dan bagi Aku, melihat Rayyan tersenyum dan semangat mengaji adalah upah paling mewah yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun. Perjuangan di asrama SMP IT Darul Hikmah terus berlanjut, mencetak generasi robbani yang siap berbakti pada negeri, berawal dari kesabaran seorang musrif dalam merangkul hati yang sedang galau.
Simpang Tiga, April 2026