MIRISNYA HARI BUKU SEDUNIA

   MIRISNYA HARI BUKU SEDUNIA


Oleh: Ustaz Agus Hendra

( Kepala Sekretariat Yayasan Darul Hikmah )

Penetapan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia (World Book and Copyright Day) diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Momentum ini pertama kali diputuskan dalam konferensi pada 23 April 1995 di Paris. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa gagasan ini berasal dari penulis asal Valencia, Spanyol, Vicente Clavel Andrés. Ia mencetuskan perayaan tersebut untuk mengenang para penulis besar dunia yang telah wafat, salah satunya sastrawan Inggris era Renaisans, William Shakespeare.

Pada tahun 2026, UNESCO menetapkan Rabat, Maroko, sebagai Ibu Kota Buku Dunia (World Book Capital). Kota ini terpilih karena komitmennya dalam mempromosikan literasi dan budaya membaca. Rabat menjadi kota ke-26 yang menyandang gelar tersebut sejak program ini dimulai pada tahun 2001.

Di banyak negara, peringatan Hari Buku Sedunia menjadi pengingat penting bahwa buku adalah fondasi peradaban. Namun di Indonesia, momentum ini sering kali hanya berhenti pada seremoni: diskon buku, festival literasi, dan kampanye sesaat yang cepat berlalu. Padahal, membaca merupakan salah satu cara utama untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber tertulis. Semakin banyak membaca, semakin luas pula wawasan yang dimiliki. Tak heran jika buku sering disebut sebagai “jendela dunia”, karena mampu menumbuhkan nalar, mempertajam pemikiran, serta menghidupkan diskusi kritis.

Sayangnya, kondisi literasi di Indonesia masih memprihatinkan. Data yang kerap dikutip dari UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca. Selain itu, Indonesia juga pernah berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa skor literasi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk yang gemar membaca buku. Sementara itu, survei GoodStats tahun 2025 mencatat hanya 20,7% responden yang rutin membaca setiap hari.

Rendahnya kemampuan literasi anak Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah terbatasnya akses terhadap perpustakaan dan koleksi buku, terutama di daerah pelosok. Selain itu, kurangnya teladan dalam keluarga juga menjadi penyebab minimnya budaya membaca di rumah. Di sisi lain, masyarakat belum sepenuhnya peduli, dan kebijakan negara pun dinilai belum optimal dalam mendorong budaya literasi secara berkelanjutan.

Pengaruh teknologi juga tidak dapat diabaikan. Dominasi gawai dan media sosial membuat banyak anak lebih memilih menonton daripada membaca. Ketika akses terhadap buku terbatas, peran perpustakaan tidak maksimal, harga buku relatif mahal, dan sistem pendidikan belum sepenuhnya menumbuhkan daya kritis, maka yang terjadi adalah kemunduran budaya membaca. Dampaknya, generasi muda berpotensi mengalami kekeringan intelektual yang berujung pada lemahnya kemampuan berpikir.

Di era sekarang, semakin jarang ditemukan generasi muda yang gemar membaca. Banyak yang lebih menghabiskan waktu di depan gawai—berswafoto, menelusuri media sosial, bermain gim, atau sekadar mengisi waktu tanpa arah yang jelas. Di tengah pesatnya transformasi digital, pertanyaan penting pun muncul ? masih adakah generasi muda yang menanamkan kebiasaan membaca dan sampai kapan kondisi ini akan terus dibiarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Terkait

Yayasan Darul Hikmah Pasaman Barat hadir sebagai ruang tumbuhnya generasi berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi dunia yang makin kompetitif.

Ikuti Sosial Media Darul Hikmah