Peran Orangtua Menjaga Anak di Rumah

Peran Orangtua Menjaga Anak di Rumah

Oleh: Ustaz Septria Rahmat. A 

( Humas dan Media Darul Hikmah )

Ayah dan bunda adalah sosok yang paling dicintai serta dirindukan oleh anak-anaknya. Tidak heran, ketika tiba masa libur sekolah atau pondok pesantren, yang pertama sekali dicari oleh anak bukanlah teman atau keramaian, melainkan orang tuanya sendiri. Kehangatan rumah terasa lengkap ketika mereka bisa kembali berada di samping ayah dan bunda.

Dalam momen liburan itu, anak biasanya turut membantu pekerjaan rumah: menyapu, mencuci piring, menjemur pakaian, atau sekadar menemani ibunya di dapur. Aktivitas sederhana tersebut, selain meringankan pekerjaan orang tua, juga menjadi cara bagi anak belajar tanggung jawab dan kebersamaan.

Namun, kondisi hari ini mulai bergeser. Tidak sedikit anak yang baru pulang dari sekolah atau pesantren, bukannya mencari ayah dan bundanya, justru sibuk mencari handphone atau gadget. Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya?

Salah satu penyebabnya bisa jadi karena orang tua sendiri yang memberikan atau membelikan gadget sebagai bentuk kasih sayang. Ada pula yang beralasan agar anak betah di rumah dan tidak banyak bermain di luar. Niat ini mungkin baik, tetapi tanpa pengawasan yang tepat, gadget dapat membawa dampak negatif yang serius.

Bahaya Gadget pada Anak

Di usia remaja, rasa ingin tahu begitu besar. Tanpa arahan, gadget bisa membuka pintu pada hal-hal yang berbahaya, misalnya:

1. Akses ke video pornografi yang merusak cara berpikir dan memicu perilaku menyimpang.
2. Kecanduan game, yang sering mengandung unsur kekerasan, pornografi, hingga bullying termasuk salah satu game yang viral pada tahun 2025 ini serta digemari oleh anak-anak yakni game Roblox.

Dikutip informasi berita dari website kominfo.jatimprov.go.id. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya menyoroti fenomena maraknya game daring, khususnya Roblox, yang dinilai memuat konten berbahaya bagi anak-anak. Pandangan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Komnas PA Kota Surabaya, Syaiful Bachri yang menyebut pelarangan semata tidak cukup, tapi juga perlu pendekatan yang sistematis dan edukatif.

Diketahui, game roblox belakangan ini menjadi sorotan setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melarang anak-anak memainkannya. Game ini disebut memuat adegan kekerasan, bahkan konten berbau pornografi, sadisme, horor, pergaulan bebas, hingga inses.

“Kami melihat ada 15 game dalam roblox yang teridentifikasi paling berbahaya yang mungkin ditemukan oleh anak-anak, dalam pornografi, sadisme, horor, kecemasan, pergaulan bebas hingga yang sedarah. Kondisi ini menunjukkan akses teknologi tanpa pengawasan orang dewasa bisa berdampak serius terhadap kondisi psikologis anak,” ujar Syaiful, Senin (11/8/2025).

Kemudian dari sisi kesehatan, penggunaan gadget berlebihan juga dapat merusak mata, mengganggu konsentrasi, membuat anak mudah emosi, stres, malas belajar, hingga mengalami kecanduan.

Pernahkah kita benar-benar memperhatikan apa saja yang dilihat anak saat bermain handphone? Jika anak dibiarkan menonton video pornografi, dampaknya bisa sangat berbahaya. Banyak kasus penyimpangan seksual, pelecehan, hingga perilaku Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) yang bermula dari tontonan tersebut. Begitu juga dengan game, yang kadang menanamkan pola pikir keras, penuh amarah, dan kurang empati.

Oleh sebab itu, pengawasan orang tua menjadi kunci. Bukan sekadar melarang, melainkan juga mendampingi dan memeriksa aktivitas anak.

Ayah dan Bunda: Dua Pilar Pendidikan

Dalam Islam, ada ungkapan bijak: “Al-Ummu madrasatul ula, wal abu mudiiruha.” Artinya, ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak, sementara ayah adalah kepala sekolah yang mengarahkan, membimbing, dan memberi motivasi.

Ibu berperan menanamkan kasih sayang, moral, dan adab. Ayah hadir sebagai pelindung dan pemimpin yang memberi arahan. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kehadiran dan kerja sama ayah-bunda adalah fondasi utama agar anak tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak baik.

Peran orang tua menjaga anak di rumah tidak bisa digantikan oleh apapun, termasuk oleh gadget yang paling canggih sekalipun. Anak lebih membutuhkan kehangatan pelukan, nasihat, teladan, serta perhatian tulus dari ayah dan bundanya.

Maka, alih-alih sibuk memberi fasilitas, mari hadir sebagai pendamping. Karena sejatinya, yang paling dicari anak di rumah bukanlah layar gadget, melainkan sosok ayah dan bunda yang selalu siap menjaga dan menuntun.

One thought on “Peran Orangtua Menjaga Anak di Rumah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Terkait

Yayasan Darul Hikmah Pasaman Barat hadir sebagai ruang tumbuhnya generasi berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi dunia yang makin kompetitif.

Ikuti Sosial Media Darul Hikmah