Namanya Tak Seharum Kartini

“Namanya Tak Seharum Kartini”

 

Oleh: Ustazah Melia Roza

( Guru SMP IT Darul Hikmah ) 

 

Pagi ini hujan turun dengan lebat. Sembari menunggu hujan reda, mencoba melihat status teman di WhatsApp. Ada yang mengupload tentang Kartini, hari ini ternyata 21 April. Diperingati sebagai hari lahirnya Kartini. Sudah pasti banyak yang tahu tentang beliau, toh bahkan sudah ada tugunya, filmnya, bahkan hari lahirnya pun menjadi momentum untuk orang-orang mengenal artinya perjuangan.

Mencoba mengingat-ingat perkataan seseorang bahwa kita orang Minang punya sosok Kartini juga. Yaitu perempuan-perempuan hebat yang lahir untuk banyak orang. Sebut saja, Rahmah El Yunusiah, Roehana Kudus, Rasuna Said, Siti Manggopoh dan mungkin masih ada lagi yang mana belum penulis ketahui. Tapi sayangnya banyak yang tak kenal nama-nama tersebut; masih kata seseorang tadi.

Hari ini penulis  ingin membahas tentang Rohana Kudus; Jurnalis perempuan pertama Indonesia. Si pemberani lagi tangguh. Bahkan adat Minangkabau yang terkesan memberikan ruang sempit untuk kaum perempuan pada masanya, bisa ditembus beliau tanpa menabrak norma-norma yang ada di masyarakat.

Rohana Kudus hadir sebagai solusi untuk perempuan-perempuan Minang pada masanya, beliau mendirikan surat kabar Sunting Melayu. Yang mana surat kabar tersebut membahas isu-isu perempuan. Baik mengenai pendidikan, kesehatan, Budaya, dan peran perempuan.

Tidak hanya surat kabar, Rohana Kudus juga mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Yang mengajari perempuan keahlian menyulam, menenun hingga memasak. Di sana perempuan juga diajari menulis, membaca dan berhitung. Hingga sekarang kerajinan Amai Setia masih menunjukan eksistensinya . Menjadi salah satu tempat yang ingin penulis kunjungi.

Rohana dengan ide dan aksinya yang memukau terutama di bidang jurnalistik, menurut hemat penulis lahir karena sedari kecil tumbuh dari keluarga yang mendukung dunia literasinya. Ayah Rohana Kudus yang seorang jaksa berlangganan surat kabar terbitan Medan untuk melengkapi bacaan Rohana Kudus. Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, tempat yang banyak melahirkan tokoh-tokoh hebat Indonesia, sebut saja Haji Agus Salim, Abdoel Moeis, Sutan Syahrir yang juga saudara seayah dari Rohana Kudus dan banyak tokoh lainnya jika dicari di google.

Dalam sebuah tulisan Tamara Djaja, dikatakan bagaimana kehidupan kecil Rohana Kudus “Waktu di Alahan Panjang belum ada sekolah rakyat, belum ada anak- anak bersekolah, karena Alahan Panjang hanyalah sekolah kecil saja. Setiap waktu Rohana membaca dengan suaranya yang lantang kadang- kadang melengking sampai asyiknya. Buku- buku yang ada di rumah habis dibacanya, karena rajin membaca itulah ia segera mengerti.”

Menjadi Rohana Kudus pasti menyenangkan dengan disediakannya buku bacaan di rumah oleh orang tuanya. Penulis ingat betul ketika dulu di Sekolah Dasar dipinjami buku bacaan oleh guru, buku itu dibaca berkali-kali hingga hafal isinya.

Dari dunia literasi serta dukungan keluarganya, Rohana kecil menjadi guru untuk teman- temannya. Seperti dalam tulisan Tamara Djaja: “Yang menarik pula, ialah kesukaannya membacakan surat kabar itu di muka umum, di depan orang banyak, orang tua- tua dan cerdik pandai. Setiap sore ia pergi ke tempat di mana orang banyak berkumpul, lalu membacakan surat kabar kepada mereka dengan suaranya yang nyaring, orang tertarik dengan kelincahannya, dan dengan sendirinya ia mendapat pujian.”

Rohana Kudus, perempuan tangguh lagi berani dari kecil itu tak seharum dan setenar Kartini. Penulis tidak pernah ingin membandingkan Rohana Kudus dengan Kartini, namun dari cerita-cerita tentang Rohana Kudus telah menyadarkan kita, bahwa Rohana Kudus memang sudah menjadi cahaya dari kecilnya, dia dibentuk dengan kemauannya untuk belajar, serta dukungan keluarganya, dia tidak dibentuk oleh Belanda yang punya kepentingan. Menurut penulis Rohana Kudus dewasa lahir dari kesungguhannya sedari kecil. Maka segala sesuatu yang besar tidak dilahirkan begitu saja, namun butuh proses yang panjang. Rohana kudus telah membuktikannya. Maka, pantas rasanya dia mendapat gelar sebagai pahlawan nasional di tahun 2019 mengingat hal- hal yang dilakukannya.

Sudah selayaknya kita menjadikan Rohana Kudus contoh untuk anak-anak didik kita, bahwa Rohana Kudus dewasa lahir dari kecintaannya pada dunia literasi, yaitu membaca dan menulis.

 

Pasaman Barat, 21 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Terkait

Yayasan Darul Hikmah Pasaman Barat hadir sebagai ruang tumbuhnya generasi berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi dunia yang makin kompetitif.

Ikuti Sosial Media Darul Hikmah