

Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang selalu kita nanti, kita rindukan, dan kita sambut dengan berbagai persiapan.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri:
Apakah kita benar-benar siap menyambutnya dengan hati yang hidup?
Dan lebih dalam lagi, bagaimana jika Ramadhan yang akan datang ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita?
Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengajak kita berhenti sejenak… dan bermuhasabah.
Setiap tahun, Ramadhan datang dengan cara yang sama.
Namun orang-orang yang menyambutnya selalu berbeda.
Ada yang tahun lalu masih berpuasa bersama keluarga, hari ini namanya hanya tinggal di batu nisan.
Ada yang dulu rajin tarawih di masjid,
kini hanya bisa kita doakan.
Kita sering berkata, “InsyaAllah Ramadhan nanti saya…”
Padahal tidak ada satu pun jaminan bahwa kita akan benar-benar sampai.
Maka 30 hari menjelang Ramadhan bukan sekadar hitungan waktu, tetapi kesempatan emas untuk menyiapkan hati.
Sebelum berbicara tentang Ramadhan yang akan datang, ada baiknya kita menoleh ke belakang sejenak.
Bagaimana Ramadhan kita tahun lalu?
Apakah shalat kita lebih khusyuk, atau hanya lebih panjang?
Apakah Al-Qur’an lebih sering dibaca, atau hanya dikejar target khatam?
Apakah lisan lebih terjaga, atau justru tetap mudah menyakiti?
Apakah setelah Ramadhan, kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah?
Jika Ramadhan berlalu, tetapi tidak meninggalkan bekas dalam diri,
mungkin yang perlu kita benahi bukan momennya, melainkan cara kita menyambut dan menjalaninya.
Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan umat Islam.
Ia adalah madrasah ruhani, sekolah pembentuk takwa.
Allah ﷻ tidak berfirman:
“Agar kalian menahan lapar dan dahaga”
Tetapi:
“Agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Artinya, Ramadhan bukan tujuan, ia adalah jalan menuju perubahan.
Dan perubahan itu tidak lahir secara instan di hari pertama Ramadhan, tetapi dimulai dari persiapan hati sebelum Ramadhan tiba.
Tidak semua orang mampu melakukan perubahan besar sekaligus.
Namun setiap orang bisa memulai dari langkah-langkah kecil yang jujur.
Bukan taubat yang emosional sesaat,
tetapi taubat yang diiringi tekad untuk memperbaiki diri.
Bukan sekadar agar terlihat rajin, tetapi agar benar-benar ingin dekat dengan Allah.
Mulai dari tepat waktu, memahami bacaan, dan menjaga kekhusyukan.
Tidak harus banyak, yang penting konsisten dan dipahami.
Meminta maaf, memaafkan, dan membersihkan hati dari dendam.
Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan dengan ikhlas, akan membuat Ramadhan terasa lebih hidup dan bermakna.
Bayangkan sejenak, jika ini adalah Ramadhan terakhir kita di dunia.
Ramadhan terakhir kita berdoa.
Ramadhan terakhir kita sujud panjang.
Ramadhan terakhir kita membaca Al-Qur’an.
Apakah kita ingin menjalaninya dengan hati yang lalai, atau dengan hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah?
Kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita menyambut Ramadhan
dengan penuh rindu, bukan sekadar rutinitas.
Ramadhan adalah hadiah.
Tidak semua orang mendapatkannya.
Maka selama Allah masih memberi kita waktu, mari kita manfaatkan 30 hari ini untuk menyiapkan diri.
Bukan untuk menjadi sempurna,
tetapi untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, dan menjadikan Ramadhan sebagai saksi kebaikan kita, bukan sekadar tanggal yang berlalu tanpa makna.
اللهم بلغنا رمضان، وبارك لنا فيه
Darul Hikmah Pasaman Barat