

Pagi itu aku sedang buru-buru. Ada rapat, ada laporan yang harus dikirim, dan otak rasanya udah kayak 15 tab browser yang semuanya nge-lag.
Aku berjalan cepat menuju dapur—dan langsung berhenti.
Tembok dekat ruang tamu… penuh coretan.
Serius. Penuh banget.
Merah, biru, kuning, hijau—semua warna krayon yang pernah kubeli sepertinya sudah berkontribusi di sana.
Dan di tengah masterpiece level “Abstrak Tak Terdefinisi” itu, berdiri Rehan. Dengan krayon merah di tangan.
Senyum bangga.
Kayak baru nyelesaiin mural di gedung 12 lantai.
“Rehan gambar rumah kita, Yah!” katanya excited setengah mati.
Sementara batinku teriak, “Astaghfirullah… renovasi nggak murah!”
Refleks pertama sebagai orang tua biasanya memang meledak: marah, ngomel, ngasih aturan, blablabla. Tapi entah kenapa… aku diam.
Bukan karena sabar banget—nggak juga.
Tapi karena tiba-tiba aku lihat sesuatu yang aneh.
Di antara coretan itu… ada gambar kecil berbentuk hati.
Dan di dalamnya tertulis dengan ejaan super kacau:
“Ayah Ibu Rhen.”
(revisi: maksudnya Rehan)
Aku terpaku.
Coretan yang barusan kukira bencana itu ternyata… ungkapan cinta versi anak kecil.
Aku jongkok.
“Ini rumah kita yang mana, Nak?”
Dia langsung heboh menjelaskan.
Ini kamar Ayah-Ibu.
Ini dapur.
Ini kamar dia.
Ini dirinya sendiri.
Dan semua digambar dengan dunia imajinasi yang meledak-ledak, nggak pakai batasan perspektif atau aturan seni apa pun.
Dan di sana aku sadar:
Tembok itu jadi kanvas karena dia ingin menunjukkan sesuatu yang besar, sesuatu yang tidak muat di buku gambar kecilnya.
Anak-anak nggak punya filter: ketika mereka bangga, mereka ingin dunia melihat.
Ketika mereka punya cinta, mereka ingin menuliskannya besar-besar.
Aku pelan-pelan bilang, “Rehan, gambarnya bagus banget. Ayah suka. Tapi next time kita gambar di kertas gede ya, biar temboknya nggak rusak.”
Dia mengangguk. Tidak tersinggung. Tidak sedih.
Karena dia merasa diapresiasi dulu.
Baru diarahkan.
Sederhana, tapi efeknya beda jauh.
Malamnya, aku duduk sendirian sambil melihat kembali tembok itu.
Dari sudut tertentu, coretan itu bukan lagi masalah.
Justru… terasa hangat.
Kayak pengingat bahwa anak kecil itu pernah melihat dunia dengan cara yang polos dan merdeka.
Dan lucunya, saat aku kecil dulu, aku juga pernah menggambar di tembok rumah orang tuaku.
Tapi waktu itu aku dimarahi habis-habisan.
Mungkin karena itu, aku tumbuh jadi anak yang takut berekspresi.
Saat melihat coretan Rehan, rasanya kayak luka lama disembuhkan.
Kayak masa kecil balik sebentar buat bilang, “Lo baik-baik aja. Dan sekarang lo bisa jadi orang tua yang lebih tenang dari generasi sebelum lo.”
Konon, luka masa kecil tidak selalu disembuhkan oleh waktu.
Kadang disembuhkan oleh momen bersama anak kita sendiri.
Dan…
siapa sangka kesembuhan itu datang dari tembok penuh krayon?